Selasa, 04 Agustus 2009

Sukmawati

Selasa, 04 Agustus 2009
Cerpen: Adi Suhara


Tiba-tiba saja aku menulis cerita tentang Sukmawati. Gadis yang pernah tertambat di telaga ini. Bersama perahunya yang sangat kurasakan liukannya menari-nari di setiap rongga napasku, di setiap denyut nadiku. Dulu…

******************

Di sebuah halte siang hari. Saat gerimis-gerimis kecil berderai menyapu debu. Di situlah aku mengenalmu pertama kali. Sukmawati. Perampuan yang kemudian menyeratku ke dalam kehidupannya. Lalu bercengkrama dengan suka duka yang kadang membuat aku terlena dan terbius tentang impian masa depan yang abadi.

Canda-tawa lepas siang itu. Menyeruak gemericik hujan yang makin lama semakin deras. Keakraban seperti terjalin begitu saja tanpa batas. Menyibak tabir-tabir kebekuan yang sempat hadir sebelumnya. Hanya kau dan aku di halte itu. Sesekali ada satu-dua orang yang lewat di hadapan kita, namun orang itupun berlalu seiring lalu-lalangnya angkutan umum, dan kita sama sekali tidak mengubrisnya. Malah kita terus saja melaju dengan obrolan-obrolan renyah yang sangat mengasyikkan, bahkan terkadang mulai menembus lingkup pribadi kita masing-masing.

“Hendra, main ke rumah ya!”

Itulah ajakan pertamamu. Aku menyambutnya dengan gembira. Aku mendatangi tempat kostmu Rt.16 Rw.08 No.32 Mendalo Darat seperti yang kau tunjukkan. Di kostmu itulah episode berikutnya kita lanjutkan. Di bawah pohon rambutan pada sebuah bangku di depan kostmu itu kita kembali membagi cerita.

Sederet senyum selalu kau tampilkan dari riak bibirmu. Seakan kau memberi peluang begitu besar untukku memaknainya. Senyum itu begitu indah membelah keremangan malam. Bulan yang menggantung di langit menatap tak berkedip. Begitu pula bintang dengan kerlap-kerlipnya. Dan kita seutuhnya tidak mempedulikan itu. Sebab, sepantasnya kita membiarkan saja malam memotret kita dengan perniknya yang mewarni.

Begitulah malam itu kita lalui. Selanjutnya kita bagaikan sepasang merpati yang senantiasa ingin selalu mewarnai malam itu dengan canda-tawa. Dan sedetikpun kita tiada sadar bahwa suatu saat hal semacam itu belum tentu kembali hadir menyapa kita. Barangkali aku begitu yakin dengan ketulusan yang kau tawarkan, sehingga tak secuilpun prasangka negatif menyelinap ke sel-sel kepalaku. Mungkin juga aku telah terdoktrin dengan kata-kata yang selalu kau agung-agungkan “Aku milikmu seutuhnya” bisikmu. Kemudian kata itu kau transformasikan lewat tingkah-polahmu.

Kau terlalu berani mengajakku bermain api, sehingga aku terbakar dalam bara-baramu. Bara yang senantiasa membumihanguskan semua idealisme yang kupunya. Aku ingat malam-malam yang kita rayapi, di bawah pohon rambutan pada sebuah bangku di depan kostmu itu. Diantara redup perapian yang menyala kau rengkuh aku.“Ini sekedar cumbuan!” lirihmu. Aku coba menetralkan rongga pernapasanku. Namun itu mustahil dan tak mungkin aku lakukan. Sebab, selanjutnya kau telah terlampau jauh menyeretku, mengajakku menjelajahi dunia lain yang sebelumnya tak pernah aku kenal. Sengaja atau tidak, kau telah menyeret ombakku menyisiri pantaimu yang begitu indah, dan seharusnya kita akhiri malam itu dengan penyesalan.

Nyatanya tidak. Dua kali, tiga kali bahkan berkali-kali kau ingin kembali mengulanginya. Barangkali ada semacam perasaan yang terus-menerus menderamu, memaksamu untuk mengulanginya. Aku sempat berpikir bahwa tingkahmu itu terlalu over, bahkan aku merasa itu diluar lingkaran kewajaran. Seperti serigala kau begitu buas, dan setiap saat ingin saja menerkamku, menjeratku dengan jarring laba-labamu. Hingga aku takluk dan tak berkutik barang secuilpun.

Barangkali aku sempat lupa, suatu waktu aku pernah tidak peduli dengan semua ajakanmu. Bahkan tidak sama sekali berkunjung ke kostmu. Ada penolakan yang kemudian tumbuh, bertunas, dan berkembang di batinku. Penolakan yang senantiasa timbul-tenggelam bersama terpaan angin. Mungkin embun lebih mampu membawaku ke taraf berpikir yang lebih jernih. Hingga kemudian aku benar-benar sanggup melupakanmu dari sel-sel kepalaku.

Entah berapa lama waktu itu berjalan. Tanpa mau lagi aku menemui desah napasmu, dan sederet senyummu mengalir di setiap langkahku. Aku benar-benar telah ingin membuangnya, menjauhinya, dan melupakannya. Namun, aku pikir itu sia-sia. Sebab semakin kuat hasrat untuk melupakanmu, semakin kuat pula rasa rindu untuk selalu dekat denganmu itu timbul. Seakan ada semacam gaya magnet yang begitu kuat yang mencoba menarik-narikku.

Hingga akhirnya aku coba kembali mendatangi kostmu. Dari situ aku baru tau, dengan sempurnanya kau benar-benar hilang dari hadapanku. Tak satupun yang tau, di sudut dunia mana kau berdiam, dimana alamatmu yang baru. Seperti angin kau menghilang tanpa bekas, tanpa secuilpun jejakmu yang bisa kupungut. Dan mulailah kesepian itu menderaku. Gemerlap dan keramaian kota ini adalah bagian dari kesendirianku. Malam-malamku selanjutnya menjadi sepi, sunyi tanpa Sukmawati.

******************

Malam ini kembali sepi. Dingin masih sempat mampir ke rongga pori-poriku. Menyapaku. Seakan ia tau, akulah teman sejatinya yang senantiasa menemaninya pada setiap malam-malamku. Ringkik jengkrik tak sempat aku hiraukan. Aku memang lupa pada pernak-pernik malam. Bulan dan bintang sudah tak sanggup lagi membalut luka ini. Luka hati yang teramat sangat teriris. Pedih. Aku benar-benar ingin menjalani malam ini dengan kesendirian.

Perlahan rintik gerimis turun. Menyapu debu-debu diatas trotoar-trotoar yang kulewati. Terkadang deras, terkadang pelan seirama dengan tiupan angin yang menerpanya. Derap langkahku terus saja berjalan dan berjalan menyusuri trotoar-trotoar, gang-gang yang sebelumnya tak pernah aku kenal. Aku sudah tidak peduli dengan adanya perampok atau pemalak yang mencoba menggangguku malam ini. Toh, mereka juga manusia sama sepertiku.

Dingin semakin menggigit saja ketika hujan turun semakin deras. Kucoba rapatkan jaketku dan berlari untuk sekedar mencari tempat berlindung. Di ujung gang kudapati ada sebuah gedung dengan papan reklame di depannya yang bertuliskan “Pub & Karaoke X”. Tiba-tiba ingin sekali aku memasukinya. Mencoba menghangatkan suasana dengan seteguk bir atau wiski seperti kebanyakan orang-orang kaya berduit.

Aku benar-benar ingin merasakannya, melepaskan seua beban dan pikiranku di tempat itu. Di sudut ruangan di Pub itu aku tumpahkan segalanya. Entah berapa gelas bir, wiski itu aku minum. Mungkin tiga gelas, empat gelas atau bergelas-gelas. Jelasnya telah mampu membuat kepalaku pusing dan setengah tak sadar.

Di sela-sela ketidaksadaranku itulah aku merasa ada seorang wanita tengah menatapku dari sudut ruangan yang lain. Tatapannya tajam seakan menusuk ke celah dadaku. Aku begitu merasa mengenalnya. Sehingga ingin sekali aku mengejarnya, merengkuhnya. Perlahan kucoba berdiri dan berjalan mendekati wanita itu. Wanita itu semakin tajam menatapku. Semakin dekat jarakku dengannya, tatapan wanita itu semakin menusuk. Dan ketika tanganku baru saja menyentuhnya, wanita itu bernjak pergi tanpa mau mempedulikanku. Kucoba kembali mengejarnya, namun semakin cepat aku mengejar semakin cepat pula ia berlalu. Akhirnya dengan sisa tenaga yang kupunya, aku terus membuntutinya hingga beberapa saat aku dapat merengkuh pundaknya, membalikkan badannya.

“Sukmawati…!!”

“Maaf, anda salah orang!” tepis wanita itu.

Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan aku yang masih termangu berdiri. Kucoba bangunkan kembali sisa kesadaranku yang barangkali saja masih tersisa.

“Ah.. Sukmawati, mimpi apa aku saat ini, hingga tiba-tiba saja aku merasa muak dan benci melihatmu, mengenangmu. Rasanya ingin sekali aku melupakanmu, menjauhimu, dan tak akan lagi menemuimu…
(mungkin juga dalam cerpen-cerpenku..!!).***

Merangin, 4 Agustus 2009


Related Posts



0 komentar:

 

Label

Pengikut

Copyright © Jendela Informasi Anak Jambi | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog