Entah mengapa tiba-tiba saja kursi empuk itu berubah menjadi sebuah kereta kuda. Sesaat setelah pesawat Boing 737 Batavia Air yang kutumpangi mendarat di Bandara Sultan Thaha.
Aku seperti berada di tengah hutan belantara, hutan yang teramat lebat. Pohon-pohon tinggi dengan diameter tidak kuarng dari limapuluh sentimeter. Aku takjub dan benar-benar tidak mengerti, seperti terbius kereta kuda itu telah membawaku menjelajahi hutan belantara ini. Entah kemana. Bersama seorang kusir setengah tua yang berpakaian adat ala melayu.
”Ini negeri Tanah Pilih, tuan!” Tiba-tiba pak kusir yang membawaku itu memberi tahu. Aku masih dalam keadaan terkagum-kagum. Sebab, keberangkatanku semula ke kota ini hanyalah untuk menelusuri literature sejarah tentang kerajaan melayu Jambi, tidak lebih. Tapi, mengapa tiba-tiba saja aku berada di hutan belantara ini, di atas kereta kuda ini, tidak bias kupahami. Sepertinya aku telah memasuki dunia lain yang asing bagiku.
“Tuan, nampaknya kita tidak bisa lewat untuk beberapa waktu!” Kembali pak kusir itu menegurku dengan logat melayunya yang sedikit kental.
“Kenapa?” Tanyaku
“Ada iring-iringan tentara kerajaan di depan, sepertinya Paduka Rang Kayo Hitam akan melewati jalan ini”.
“Rang Kayo Hitam?’ Desahku. Ah, sulit sekali aku memaknai kejadian ini. Sepertinya aku telah terdampar di sebuah negeri masa lalu. Negeri yang hanya tercatat dalam sejarah atau legenda. Mesin waktu mana yang telah mampu membawaku ke masa ini? Masa dimana aku bersentuhan dengan sebuah dunia klasik, sulit aku cerna dengan otak kecilku.
“Ya sudah, kita minggir saja dulu!” Perintahku. Pak kusir segera menepikan kereta kudanya, dan iring-iringan tentara kerajaan pun mulai berlalu di hadapan kami. Aku sendiri mencoba untuk tidak melewati moment ini begitu saja. Lekat-lekat aku amati iring-iringan tentara kerajaan itu, ada sekitar limapuluhan prajurit berada di depan dan di belakang sebuah kereta kencana yang sangat indah. Dari ornamentnya aku bisa membayangkan, tidak sembarang orang bisa menaiki kereta kencana itu. Dan aku yakin, laki-laki yang berada di dalam kereta kencana itulah yang disebut-sebut Rang Kayo Hitam.
“Betul Tuan, dialah Paduka Rang Kayo Hitam. Coba Tuan lihat Keris Siginjai yang berada di sanggulnya!” Terang pak kusir. Sementara aku terus mengamati dengan seksama. Seandainya aku sempat membawa semacam handycam ataupaun ponsel kamera, barangkali aku bisa mengabadikan peristiwa ini. Peristiwa yang mustahil akan terulang kedua kalinya semumur hidupku.
“Berhenti!” Teriak lelaki itu.
Aku tersentak. Lelaki yang disebut-sebut Paduka Rang Kayo Hitam keluar dari kereta kencana. Kemudian berjalan menemui rakyatnya yang sedari tadi sudah berkerumun di kanan-kiri jalan. Aku bisa melihat kalau Ia begitu berwibawa, dan sepertinya juga sangat dihormati oleh rakyat-rakyatnya. Kali ini, dengan lebih jelas dapat kuperhatikan Keris Siginjai yang terselip di sanggulnya. Persis tusuk konde. Keris itulah yang menjadi lambing dan pegangan raja-raja Tanah Pilih selanjutnya.
Hanya beberapa saat saja aku tertegun, karena selanjutnya Paduka Rang Kayo Hitam sudah kembali menuju kereta kencana dan melanjutkan perjalanannya. Berlawanan dengan arah dan tujuan kami. Kami ke arah Selatan dan mereke ke arah Utara, searah dengan aliran Batanghari.
“ Kemana kita, Pak?” Tanyaku tiba-tiba pada Pak kusir saat aku sadar kereta kuda yang kutumpangi telah kembali menyusuri rimba raya.
“Kita akan mengelilingi Tanah Pilih!”
“Mengelilingi Tanah Pilih?”
“Ya, Tuan keberatan?”
“Oh, tidak!” Jawabku seadanya. Sepertinya aku sudah pasrah dengan kejadian yang kualami ini. Aku sudah tidak peduli lagi di hutan belantara mana aku berada. Sebab, semuanya telah terjadi begitu saja. Entah bagaimana mulanya, yang jelas kereta kuda ini telah menyeretku ke dalam dunia asing. Hingga aku berada di tengah hutan belantara ini, hutan yang teramat lebat. Aku yakin, di hutan ini masih banyak berkeliaran binatang-binatang buas, dan setiap saat mungkin saja siap menerkamku.
***************************************
Aku tak mampu lagi menghitung sudah berapa perkampungan yang telah kulewati. Barangkali sudah ada belasan atau juga puluhan, yang kuingat adalah kereta kuda yang kutumpangi seringkali menghantam batu-batu terjal yang menyembul di badan-badan jalan. Terkadang cukup menghentak. Kalau sudah begitu, aku hanya mampu menghela napas dalam-dalam, dan melepaskan kekesalan dengan mengamati batang-batang besar yang menjulang di kanan-kiri jalan yang kulewati.
Di langit matahari masih menancapkan sinarnya. Hanya sedikit saja tampak awan berarak. Sementara, perjalananku bersama kereta kuda dan seorang kusir terus melaju. Tanpa tahu kemana arah dan tujuan pasti. Hingga tiba-tiba kereta kuda yang kutumpangi melesat dengan cepat, lebih cepat dari biasanya. Sesaat sebelum kami melewati hutan berkabut.
“Tutup mata Tuan, kabut ini sangat perih!” Teriak pak kusir padaku.
Aku menurut saja apa yang dikatakan pak kusir, saat kami mulai melewati hutan berkabut itu. Sedikit bisa kurasakan rasa perih di mata. Seakan kabut itu menusuk-nusuk ke celah bola mataku. Semakin lama rasa perih itu semakin menusuk. Hingga beberapa saat kemudian rasa perih itu berkurang secara perlahan, dan akhirnya sirna. Aku coba kembali membuka kelopak mataku menatap ke kanan-kiri jalan, alangkah terkejutnya ketika kudapati kereta kuda yang kutumpangi telah berada diantara perkebunan karet.
“Kita berada dimana, Pak?” Tanyaku kepada pak kusir.
“Kita hampir sampai di Betung Berdarah”.
“Betung Berdarah?” Tanyaku heran. Betung Berdarah yang sempat kubaca dalam buku sejarah adalah tempat pertempuran terakhirnya Sultan Thaha sebelum wafat. Ah, benarkah ini? Peristiwa aneh apalagi yang akan kutemui? Apakah aku juga akan ikut terlibat dalam pertempuran Betung Berdarah itu?
Sayup-sayup bisa kutangkap suara-suara letusan. Aku yakin itu suara letusan senapan. Semakin lama suara itu semakin dekat seiring kereta kuda yang terus melaju. Hingga akhirnya kusadari diriku sudah berada di tempat kejadian itu. Aku melihat pertempuran tepat di depan mataku.
“Dengar Letnan G. Badings, sejengkal pun tidak akan kami biarkan tanah kami dijajah oleh Bangsa kalian!” Terdengar olehku kata-kata itu keluar dari mulut seorang lelaki yang berada di ujung sebelah kanan tempatku berdiri. Seorang lelaki bersorban, dengan sebilah Keris di pinggangnya. Persis Keris yang kulihat di sanggulnya Rang Kayo Hitam. Lelaki itu berada berseberangan dengan pasukan tentara Belanda, tempat dimana Letnan G. Badings berdiri. Aku hanya menyaksikan saja ketika para pejuang yang hanya bersenjatakan bambu runcing itu berperang melawan pasukan Belanda, sebuah pertempuran yang tidak seimbang. Namun, semangat para pejuang yang dipimpin langsung oleh Sultan Thaha itu tetap menyala bagai api yang berkobar.
**********************************
Hanya sedikit saja yang dapat kuingat, karena selanjutnya medan perang itu telah berubah menjadi sebuah lautan asap. Sangat pekat. Asap itulah untuk kedua kalinya kembali menyebabkan rasa perih di mataku. Hingga memaksaku memejamkan mata. Sementara pak kusir mencoba kembali memacu kereta kudanya, membawaku entah kemana. Yang masih bisa kudengar hanyalah letusan-letusan senapan dan lengkingan suara takbir dari para pejuang yang kian menjauh.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!!”
Hanya beberapa saat saja suara itu terdengar, lambat laun letusan senapan dan lengkingan takbir itu berganti dengan suara deru mesin. Entah apa, yang jelas setelah kubuka kembali kelopak mataku, kudapati diriku sudah berada di sebuah kursi empuk pesawat. Ini mimpi!***
Jambi, 26 Mei 2006
Catatan :
Cerpen ini terinspirasi dari artikel Junaidi T. Noor tentang Sultan Thaha, yang dipublikasikan di Harian Jambi Ekspres Mei 2006 (lupa tanggalnya)











4 komentar:
Terima kasih atas kunjungannya di blogku, Sobat! Mengenai "Kereta Kuda" meski aku bukan seorang kritikus, namun bagiku cerpen tersebut sudah memenuhi kriteria sebauh cerpen yang bagus. Baik dari plot, karakteristik, setting dan juga dari segi keindahan bahasa sudah oke. Salut, Di!
suka nulis, knp dak gabung forum lingkar pena??
salam kenal cerpenis. bagus nian.
punya komunitas menulis dimana?
tx
baru sekali ini aku dapati orang yang mau melukiskan kembali sejarah jambi dalam cerpen, baru sekali ini. bung, aku minta izinnya yo, cerpen ini mau aku bacakan di forumnya komunitas swarnabhumi. trims. (by tumenggung swarnabhumi)
Poskan Komentar